KKOTHALBAE SOOSADAE Episode 1 – 1
Empat pria tampan masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak seperti gudang. Mereka berkelahi melawan orang-orang yang ada disana. Kemudian terdengar narasi dari seseorang.
“Inggris mempunyai sebuah band rock bernama The Who. Dalam lagunya yang berjudul ‘My Generation’, terkandung lirik ini. ‘Kuharap aku mati sebelum menjadi tua.’ Kami juga berpikiran yang sama. Lebih baik mati dengan tampan sebelum menjadi tua. Mungkin karena kami yakin masa muda akan selalu menyertai kami. Tanpa menyadari kenyataannya. Yang disebut masa muda. Seperti angin. Berlalu tanpa tahu apakah kami bisa kembali. Tanpa tahu bagaimana menghargai seperti sungai Dong Ryu. Kami hidup seperti itu. Setidaknya… sebelum insiden itu terjadi.”
Empat pria tampan itu menyingkap tirai sebuah ruangan yang ada di dalam gudang, mereka melihat dua kakek yang terbelenggu di dalam akuarium besar.
~Episode 1~
Wakil Kepala Departemen kepolisian, Choi Jae Wook (selanjutnya akan disebut Deputy Choi) sedang memberikan informasi tentang identitas beberapa pengusaha yang dinyatakan hilang sejak 6 bulan yang lalu, di sebuah rapat di kepolisian. Beberapa pengusaha itu adalah Pak Ming Gu, CEO Ae Reuk Sa, 45 tahun. Han Sang Jin, CEO Tae I Trading, 42 tahun. Lee Go Won, CEO Song Su Industry, 43 tahun. Gim Gwang Il, CEO Wrath of Persia Enterprise, 44 tahun. Satu-satunya kesamaan mereka adalah mereka pergi ke luar negeri.
Komisaris Polisi, Park Jin Woo (selanjutnya akan disebut Komisaris Park) bertanya apakah ada kemungkinan mereka diculik untuk mendapatkan tebusan. Deputy Choi menjelaskan bahwa sampai saat ini tidak ada telepon yang masuk untuk meminta tebusan. Karena itu, penyelidikan saat ini telah mencapai jalan buntu.
“Untuk menyelesaikan kasus ini, kami telah membentuk unit investigasi khusus.”
“Unit investigasi khusus?”
“Sebuah unit yang dibentuk dari orang-orang terbaik dari setiap departemen.” Deputy mulai memperkenalkan anggota dari unit investigasi yang sudah dia bentuk (akan saya cetak miring).
Seorang pria tampan yang mempesona semua wanita, memergoki seorang wanita yang sedang dugem di klub malam memakai narkoba. Pria itu mengeluarkan borgol untuk menangkapnya.
“Detektif Han Won Bin. 29 tahun. Mampu memahami wanita dengan intuisinya. Nomor satu dalam kasus yang melibatkan wanita.”
Won Bin melihat kuku wanita itu kotor, dan bulu hidungnya yang panjang dan berantakan. Won Bin sontak terkejut dan menjauh dari wanita itu. Won Bin menderita Mysophobic (fobia kuman) berlebihan.
“Tapi…Tapi karena kelemahannya, ada kemungkinan kecil mengacaukan penyelidikan.”
Satu pria tampan lagi berlari mengejar tiga orang yang berlari didepannya sekuat tenaga. Pria itu mengancam akan membunuh mereka berdua jika nanti tertangkap.
“Anggota polisi Jeon Gang Suk. 28 tahun. Peraih medali tinju di Olimpiade. Dalam soal kekuatan fisik dan kecepatan, dia adalah salah satu anggota polisi teratas 1% di Korea Selatan.”
Satu orang pria yang dikejar Gang Suk tersudut. Dua orang lagi berhasil dia lumpuhkan. Gang Suk meminta pria itu segera menyelesaikan urusan mereka. Gang Suk mengeluh, setelah melakukan olahraga seperti itu, dia masih harus pergi ke pembagian tanda tangan APINK.
Pria itu menunjuk ke arah belakang Gang Suk dan berkata bahwa disana ada APINK. Gang Suk menoleh, dan mencari sosok APINK. Pria itu melarikan diri. Dan Gang Suk pun sadar jika dia telah ditipu.
“Hanya saja kelemahannya adalah dia mudah dikelabui.”
Di sebuah rumah, para polisi sedang memeriksa TKP tewasnya seorang wanita. Seorang polisi wanita memperkirakan waktu kematian sekitar 72 jam yang lalu. Dia menyimpulkan hal itu dari hamburger yang ada disana. Polisi wanita itu menguraikan penjelasannya. Ketika daging hamburger rusak, akan timbul bau asam. Dan selada yang dibiarkan cukup lama akan membusuk sampai derajat tertentu. Kira-kira sudah 72 jam yang lalu.
Tidak hanya itu, polisi wanita itu menduga ada seorang pria disana. Dia bisa mengetahuinya dari aroma parfum yang tercium oleh hidungnya.
“Sersan Jeong Eun Ji. 26 tahun. Indera penciumannya melebihi anjing. Salah satu anggota polisi yang luar biasa di Korea Selatan.”
Eun Ji kemudian memakan dengan lahap hamburger yang dia temukan. Sampai rekannya menegur Eun Ji yang makan barang bukti. Eun Ji segera menyimpannya kembali dan meminta maaf. Dia sangat menyesal, ketika melihat sesuatu yang bisa dimakan, dia kehilangan akal.
“Tapi kelemahannya, di depan makanan dia kehilangan akal sehatnya.”
Di sebuah gedung, seorang pria gendut berpakaian serba hitam menembakkan pistol ke udara. Pria itu berbahasa Rusia, dia meminta semua yang ada disana untuk tidak bergerak, jika tidak ingin dia tembak.
Di luar gedung, ramai warga dan polisi yang berkerumun.
Sebuah mobil hitam bersirine sampai, dan keluarlah seorang pria gagah dari mobil itu. Dia hendak menerobos kerumunan. Seorang polisi mencegahnya. Polisi itu bertanya apakah pria itu adalah Lee Joon Hyuk. Polisi itu menjelaskan bahwa tersangka dalam kasus itu adalah warga Rusia. Polisi itu kembali bertanya apakah Joon Hyuk bisa bahasa Rusia.
Joon Hyuk memberikan sebuah buku, Percakapan Dasar Rusia, “Aku baru membacanya sekilas. Aku akan mencobanya.”
“Lee Joon Hyuk. Anggota Polisi. 29 tahun. Dan terbaik di antara yang terbaik. Memiliki ingatan yang kuat, bisa mengingat apa pun seakan-akan dia memotretnya.”
Joon Hyuk dan polisi tadi menerobos melalui garis polisi. Joon Hyuk yang hendak masuk ke dalam kembali di hentikan oleh petugas itu, Joon Hyuk belum boleh masuk ke dalam. Joon Hyuk bertanya alasannya.
“Instruksi dari Kapten. Tidak ada yang boleh masuk sebelum dia sampai, itu apa yang dia katakan.”
“Dan di mana Kaptenmu?
“Mengenai itu... dia sedang dalam perjalanan. Dia bilang dia dalam perjalanan sejak sejam yang lalu. Belum ada tanda-tanda kedatangannya.”
Joon Hyuk berteriak kesal, “Siapa orang yang tidak berotak ini?”
Kemudian muncul sebuah mobil jeep kuning. Turun pria tampan dengan gagahnya akan melompati pagar pembatas. Namun sayang, ternyata tidak berhasil. Dia pun mencoba menaiki pagar pembatas itu untuk menyebrang yang membuatnya sedikit kesakitan di bagian ‘tertentu’. Pria itu tersenyum tanpa dosa.
“Pak Joong Woo. Detektif. 29 tahun. Memiliki penampilan yang diinginkan wanita. Karakter yang lembut, dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Sangat mirip dengan ayahnya, Komisaris Polisi. Sosok yang sempurna.” (Deputy Choi menjelaskan ini dengan semangat, membuat Komisaris Park tidak nyaman dan memukul meja meminta Deputy Choi untuk menghentikannya.)
Joong Woo menyapa Joon Hyuk, dia senang bertemu Joon Hyuk. Dengan ketus Joon Hyuk bertanya kenapa Joong Woo kesana, apakah akan membuat semuanya berantakan seperti sebelumnya. Tampaknya mereka sudah saling mengenal, dan hubungannya tidak baik.
Dengan malu Joong Woo menjawab, “Ini... ini rahasia negara, tapi... rencananya aku hanya ingin tidur 5 menit tapi berakhir ketiduran sampai 50 menit.” (tuing…)
Joon Hyuk bilang dia akan masuk ke dalam. Tersangka, orang Rusia itu adalah anggota gembong penyalur obat-obatan. Joong Woo merasa itu bagus, mereka bisa masuk bersama-sama. Joon Hyuk tidak mau, jangan harap Joong Woo bisa mencuri kasus ini di depan hidungnya. Dia sudah mengincar gembong itu selama 3 tahun.
Joong Woo bertanya pada polisi bawahannya tadi, “Hei, sudah berapa lama kita mengejar orang Rusia ini? Apa sudah 3 hari?”
“Tepatnya, 2 hari 8 jam.” Jawab polisi itu. Joong Woo tertawa, ternyata mereka kalah hari.
“Kau pasti senang, bukan?” tanya Joon Hyuk sinis. “Karena ayahmu Komisaris Polisi, kau dipromosikan dan naik jabatan dengan sangat cepat.”
Joong Woo terdiam. Joon Hyuk meminta Joong Woo untuk melupakan apa yang dia katakan. Dia akan masuk ke dalam sendirian, dan Joong Woo bisa pergi tidur. Joong Woo tersenyum mengiyakan, bahkan dia memberikan semangat pada Joon Hyuk.
Joong Woo masuk dan mengangkat tangannya di depan orang Rusia itu yang menodongkan pistol pada seorang pria tua. Joon Hyuk mendekat. Orang Rusia itu meminta Joon Hyun untuk tidak mendekat, dengan bahasa Rusia.
Joon Hyuk berusaha mengingat apa yang sudah dia baca, kemudian berbicara dengan bahasa Rusia pada orang itu, “Harap tenang. Aku datang ke sini untuk bernegosiasi. Menyerahlah dan kau mungkin memiliki kesempatan untuk menghirup udara bebas. Inilah syarat dari kami.”
Orang Rusia itu mengumpat dalam bahasa Korea. Joon Hyuk tersenyum remeh, ternyata orang itu bisa bahasa Korea. Orang Rusia itu minta disiapkan helikopter, kalau tidak dia akan membunuh kakek yang dia sandera. Kakek itu juga berteriak meminta diselamatkan oleh Joon Hyuk.
Jawaban Joon Hyuk mengejutkan, “Kenapa aku harus menurutimu? Lakukan saja sesukamu. Lagipula Korea Selatan sudah penuh dengan orang-orang tua. Kau membunuh satu orang tua akan menurunkan statistik umur rata-rata penduduk negara kami. Yah... bisa dibilang akan lebih berarti.”
Si kakek tak percaya dengan apa yang dikatakan Joon Hyuk. Tapi tak sampai disitu, Joon Hyuk kembali berkata bahwa orang tua mengonsumsi lebih dari yang bisa mereka produksi. Mereka tidak berarti. Jika satu orang tua dibunuhkupikir pajak kesejahteraan untuk orang tua juga akan dikurangi.
Si kakek marah, dia melepaskan diri dari cengkraman orang Rusia dan berlari menghampiri Joon Hyuk, mencengkram kerah jasnya. Orang Rusia sedikit panik dan lengah, dia menodongkan pistolnya ke arah sandera lain agar tidak bergerak. Joon Hyuk menggunakan kesempatan itu untuk mengambil pena yang ada disaku kakek yang menyerangnya dan melemparkannya ke arah orang Rusia. Pena itu mengenai tangan orang Rusia dan menjatuhkan pistolnya ke dalam tong sampah di dekatnya.
Orang Rusia yang kesakitan berlari ke pintu belakang. Joong Woo menjegal kakinya, sehingga dia jatuh bergulingan. Orang Rusia itu berdiri lagi dan hendak kabur, tapi pergelangan kakinya patah, dan berbunyi ‘kreek…’. Joong Woo menghampiri orang Rusia itu bertanya kenapa dia tidak berhati-hati dan kemudian memborgolnya.
Joon Hyuk akhirnya berhasil menyusul dan terkejut melihat Joong Woo, “Mengapa kau ada disini?”
“Ini adalah tempat yang terbaik untuk tidur. Lebih tenang.” Joong Woo nyengir.
“Hubungan di antara mereka sedikit aneh. Sejak mereka di Akademi Polisi, mereka bergantian menduduki peringkat teratas dan sekarang pun mereka bergantian meduduki peringkat pertama dan kedua. Hubungan saingan yang sempurna.”
Kembali ke ruang rapat. Komisaris Park bertanya bukankah ada sedikit masalah karena mereka masih muda. Deputy Choi beralasan, berdasarkan omongan orang tua, yang muda lebih mungkin menyelesaikan masalah. Komisaris bertanya lagi siapa yang bisa memimpin mereka dengan baik. Deputy Choi memberitahu bahwa mereka akan memilih seseorang dengan banyak pengalaman dan kemampuan yang hebat untuk menjadi Kapten.
“Siapa orang itu?” tanya Komisaris Park lagi.
Terdengar suara orang yang mendengkur di ruang rapat itu. Komisaris Park marah dan menggebrak meja bertanya siapa orang itu. Dengan sedikit kesal Deputy Choi bilang bahwa yang mendengkur itu adalah orang yang dia sebutkan tadi, Kapten Kim Young Chul (selanjutkan akan aku sebut Kapten Kim).
***
Kapten Kim makan bersama dengan Deputy Choi. Deputy Choi sedikit kesal, Kapten Kim masih bisa makan setelah dalam keadaan seperti tadi dia berani tidur. Kapten Kim beralasan, untuk meredam suara Deputy Choi, apalagi yang bisa dia lakukan selain tidur. Deputy Choi akhirnya bilang jika dia mengerti. Sepertinya mereka cukup dekat, dan jika tidak salah menebak Kapten Kim tidak mau diberikan tugas itu.
“Anak-anak itu mungkin kurang dewasa, tapi mereka semua memiliki kemampuan yang hebat. Jadi kau tinggal memimpin mereka dan...”
Ketua Kim menghentak sendoknya ke meja, “Hei, kau pikir kenapa dunia menjadi seperti ini? Itu karena anak-anak muda seperti mereka. Alih-alih bekerja keras, mereka hanya menyalahkan orang tua dan negara mereka. Para pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik keyboard komputer mereka.”
Deputy Choi bilang di luar sana banyak orang muda yang sudah dipersiapkan. Kapten Kim meminta Deputy Choi memberinya waktu untuk istirahat, tinggal 5 tahun lagi sebelum dia pensiun. Deputy Choi membenarkan, dan kenapa Kapten Kim masih tampak seperti itu. Kapten Kim bisa hanya meneruskannya hingga kasus itu siap untuk diumumkan ke publik. Untuk anak-anak muda itu, ini adalah pengalaman. Gunakan mereka semua. Selesaikan dengan mulus, dan Kapten Kim bisa duduk disamping Komisaris Polisi. Deputy Choi menggoda, gambarnya pasti bagus. Kapten Kim hanya tertawa.
***
Seorang kakek berlari ketakutan menuju sebuah box telpon. Dia menghubungi 112 dan meminta tolong. Operator meminta kakek itu untuk tenang dan bertanya apa yang terjadi.
“Aku adalah CEO Wrath of Persia Entreprise, Gim Gwang Il. Mereka mengejarku dan ingin membunuhku.”
Muncul sebuah mobil. Kakek itu terkejut dan ketakutan. Seorang pria turun dari mobil. Operator telpon meminta kakek untuk bicara. Tapi kakek itu menjatuhkan gagang telpon karena ketakutan. Si kakek berlutut dan menggosok-gosok tangannya meminta maaf, dan meminta diampuni. Dia tidak akan mengatakan apapun. Tanpa mengatakan apapun, pria yang turun dari mobil tadi menusuk kakek dengan pisau beberapa kali. Lalu kembali ke mobil dan pergi.
Kakek melihat ke arah mobil pergi, lalu melihat jam tangannya.
***
Esok pagi di kantor polisi, Joon Hyuk melihat tingkah aneh rekan-rekannya. Won Bin yang memegang cermin, menyempotkan pelembab wajah, dan menepuk-nepuk wajahnya sambil bercermin. Joon Hyuk menghela nafas.
Joon Hyuk mengalihkan pandangannya pada Gang Suk yang sedang push-up di tepi meja. Gang Suk lalu mengambil ponsel dan melakukan selfie dengan menunjukkan otot bisep berlian-nya. Joon Hyuk kembali menghela nafas.
Di lorong Joong Woo berlarian karena terlambat datang. Dengan wajah yang tertutup rambut dia bertanya pada Joon Hyuk apakan Kapten belum datang. Joon Hyuk berkata dengan kesal, apakah Joong Woo itu pengemis. Joong Woo menyibakkan rambutnya, dan menyapa Joon Hyuk. Joong Woo menjulurkan tangan untuk bersalaman. Tapi Joon Hyuk tidak mau dan memukul tangan Joong Woo.
“Aku tidak suka sikap pura-pura akrab yang mengganggu ini. Jangan lakukan itu lagi.”
“Begitukah? Kalau begitu, aku akan berbalik dan menyapa ramah.” Joong Woo memutar badannya dan kembali menyapa Joon Hyuk, “Annyeong.”
Joon Hyuk makin kesal dengan kelakuan Joong Woo, “Aku tidak peduli bagaimana kau hidup hingga sekarang, tapi mulai sekarang itu akan berbeda. Sebagai yang tertua di sini... Aku tidak membutuhkanmu di timku, jadi cepat keluar dari sini.”
Won Bin menyela dan mengajak untuk mengurutkan dengan benar, siapa yang paling tua. Dia bertanya pada Gang Suk berapa usianya. Gang Suk bilang dia 28 tahun. Won Bin menyuruhnya menjauh ke uJoong. Gang Suk menurut. Won Bin mengaku lahir di awal tahun ’86 sama seperti Joon Hyuk dan Joong Woo, jadi mereka berusia sama, 29 tahun. Berarti semua masalah selesai.
Tapi tidak bagi Joon Hyuk, “Bukankah kau lahir pada awal '87?”
“Heol... kalau begitu kau dan aku seumuran.” Gang Suk kembali mendekat.
“Siapa yang bilang?” Won Bin mengelak.
Joon Hyuk pun menunjukkan kemampuannya mengingat, “Han Won Bin. Lahir 30 Januari 1987. Tempat kelahiran... Gangwon, Provinsi Won Ju. Golongan darah B. Tinggal di Gangnam Cheongdamdong, Gedung apartemen ke-4 nomor 102. Aku benar kan? aku melihat berkasmu sebelumnya dan aku tidak pernah lupa sekalipun. 2 tahun yang lalu kau membantu menyelesaikan sebuah kasus.”
Won Bin keukeuh, tetap saja dia lahir awal tahun dan semua temannya lahir tahun ’86. Joon Hyuk mengumpat, karena orang seperti Won Bin lah kebingungan seperti itu terjadi.
Won Bin tidak terima dan balik mengumpat. Joon Hyuk tidak terima. Mereka berdiri.
“Apa yang kalian lakukan? Anak-anak ini.” Kapten Kim datang dan membanting buku dimejanya.
Mereka berempat kemudian berdiri sejajar dengan sikap istirahat. Kapten Kim memarahi mereka yang bertengkar seperti anak kecil hanya karena mempermasalahkan kelahiran di ’86. Tahun 1986 dia sudah menjadi polisi. Jika mereka tidak suka, Kapten Kim mempersilahkan mereka untuk keluar. Kapten Kim kesal, apakah mereka tidak tahu di tim apa mereka berada.
Gang Suk menjawab dengan tegas, “Ini tim yang dibentuk untuk mencari orang-orang hilang. Tim investigasi khusus.”
Kapten Kim bertepuk tangan, “Oh... luar biasa. Sunguh luar biasa.”
Gang Suk berterima kasih, lalu mengeluarkan ponsel dan bergaya untuk selfie, “Gang Suk tampan.”
Ternyata Kapten Kim tidak bermaksud memuji, “Pasti luar biasa...
Idiot bodoh (Gang Suk).
Parasit (Won Bin).
Pemalas (Joong Woo).
Kasar (Joon Hyuk). Sungguh warna-warni. Warna-warni.”
“Apa kata-kata Anda tidak terlalu kasar?” Won Bin protes.
“Sepatu kulit kalian lebih buruk.” Kapten Kim membantah. “Untuk melindungi negara, ada 2 peraturan. Pertama. Timku tidak boleh mengenakan sepatu kulit. Gunakan sepatu olahraga.”
Won Bin kembali protes, “Kami mengenakan jas, tidak serasi.”
Kapten Kim melanjutkan, ‘Kedua. Jangan memotong ketika aku bicara. Bubar.”
Won Bin tidak menyerah, “Saya benar-benar tidak bisa lepas dari sepatu kulit. Bunuh saja saya!”
“Kalau begitu matilah, bandel. Otak kalian hanya penuh dengan kotoran. Kau pikir sepatu kulit bisa membantumu untuk berlari dengan cepat? Yang benar saja. Anak zaman sekarang tidak mengerti hal-hal dasar. Apa saja pengetahuan umum yang selama ini kalian pelajari? Dulu, aku...”
Joon Hyun menyela, “Dulu, bahkan dengan sering berlari dan berolahraga Anda tidak bisa mendapatkan kenaikan jabatan. Hanya mempelajari cara mengumpat. Membicarakan masa lalu hanya membuang-buang waktuku.”
“Apa katamu? Anak kurang ajar...” Kapten Kim kesal dan akan memukul Joon Hyuk, tapi terhenti karena ada seorang wanita yang datang. Kapten Kim bertanya siapa dia.
“Halo. Saya dipindahtugaskan ke tim khusus. Nama saya Jeong Eun Ji.” Eun Ji tersenyum.
Kapten Kim bertanya ada apa Eun Ji kesana. Eun Ji bilang terjadi sesuatu dan mereka diminta pergi ke tempat kejadian.
Anggota Tim Khusus pun keluar dari kantor polisi bersama-sama. Eun Ji bertanya pada Joon Hyuk apakah dia mengingat Eun Ji. Mereka pernah bekerja bersama dalam pencarian gabungan. Joon Hyuk menjawab dengan ketus dia tdak tahu dan tidak ingat. Eun Ji tidak mempermasalahkan karena dia mengingatnya.
“Bisa bekerja bersamamu adalah sebuah kehormatan. Tolong ajarkan aku berbagai hal.” Eun Ji tampak sangat mengidolakan Joon Hyuk sebagai sunbaenya.
“Aku tidak punya waktu untuk mengajar.”
“Kalau begitu... aku akan belajar sendirian.”
“Dengar, otak kosong.”
Eun Ji menengok kanan kiri, “Otak kosong? Aku?”
“Ya, aku bicara padamu, otak kosong. Apa kau menyukaiku?”
“Apa?” Eun Ji memalingkan wajahnya.
“Jangan tertarik padaku. Aku sudah ada yang punya. Aku akan menikah dalam 3 bulan.” Ujar Joon Hyuk lalu masuk ke dalam mobil.
Eun Ji pun terdiam.
Jung Woo yang berada di belakang dan mendengarkan percakapan itu berkata pada Eun Ji, “Wow. Kau pasti sangat menyukainya. Ekspresimu benar-benar kecewa.”
Eun Ji mengelak, “Bukan seperti itu. Aku menyukai orang lain.”
“Siapa? Aku?” tanya Jung Woo ke-gr-an.
“Apa kau sudah gila?” Eun Ji menyangkal.
“Jangan berlebihan. Kau juga bukan tipeku.” Jung Woo melihat badan Eun Ji, “Aku sangat tidak suka cup A.”
Eun Ji membuka sedikit jaketnya, menyilangkan tangan di bawah dada dan berkata dengan bangga, “Aku cup C.”
Jung Woo melirik dada Eun Ji, “Ah, cup C... membuatku ingin menangis.”
Jung Woo kemudian masuk ke dalam mobil. Eun Ji kecewa, kenapa dengan cup C, menurutnya itu sudah bagus.
***
Mereka tiba di TKP. Box telpon disamping sungai Han. Ternyata itu kasus kakek yang semalam dibunuh. Joon Hyuk menggunakan sarung tangan dan segera menghampiri korban. Joon Hyuk mengambil jam tangan yang dipakai korban dan melihatnya dengan seksama.
Tiba-tiba Won bin mencondongkan kepalanya dengan terkejut melihat jam tangan itu. Jon Hyuk kesal, dan menyuruh Won Bin menyingkirkan kepalanya. Won Bin bilang itu adalah jam tangan Switzerland Don Rosco, edisi terbatas. Harganya sekitar 20,000,000 won.
Eun Ji yang berdiri tak jauh dari mereka terkejut, luar biasa, dia bisa membayar uang jaminan rumahnya dengan jam tangan itu. Joon Hyuk menghina Eun Ji cocok tinggal di rumah sewaan.
Gang Suk ikut nimbrung, dan mengeluarkan ponselnya. Seperti biasa, dia ingin selfie dan mengunggahnya agar dilihat followernya. Won Bin mengejek Gang Suk, idiot, memintanya berhenti membicarakan follower. Gang Suk tidak terima, “Jangan mengatai orang lain. Kita seumuran.”
Satu lagi nimbrung, Jung Woo menunjuk jam tangan itu, “Yah, aku juga punya jam tangan itu...”
Gang Suk, Won Bin, dan Eun Ji langsung mengerubungi Jung Woo mengagumi jam tangan itu, dan bertanya-tanya benarkan itu sungguhan. Joon Hyuk speechless melihat kelakuan mereka.
Joon Hyuk meneliti kembali jam tangan itu, dia berpikir ada sesuatu yang tersembunyi disana. Joon Hyuk menghampiri korban lagi, dan terkejut melihat serpihan kaca jam tangan ada di gagang telpon.
***
Bersambung ke bagian 2~
***
Komentar:
Setelah ada subtitle baru lebih jelas ya sifat-sifat mereka. Joon Hyuk yang cerdas tapi arogan, Jung Woo yang pintar tapi pemalas dan koplak, Gang Suk yang macho tapi kecanduan medsos dan warna pink, Won Bin si Don Juan yang resik dan benci kuman, dan Eun Ji yang polos.
Hubungan Joon Hyuk dan Jung Woo disebutkan aneh karena mereka saingan mendapatkan tempat pertama. Dan sepertinya Joon Hyuk ketus pada Jung Woo karena dia menganggap Jung Woo seperti itu karena ayahnya yang seorang Komisaris Polisi. Tapi menurutku tidak begitu, Komisaris Park kelihatannya galak, dia bahkan tidak suka Deputy Choi membandingkan Jung Woo dengannya. Yah, baru episode 1 dan baru bagian 1, jadi belum banyak yang bisa dikatakan.
Oya, subtitle drama ini lebih lama keluar daripada drama lain. Sekitar 5 hari setelah dramanya tayang, baik yang English dan Indonesia, jadi maaf ya telat. Ditambah dengan kondisiku yang sekarang. Sekali lagi maaf ya.. Dan sinopsis drama ini akan aku buat 3 bagian per episodenya.
###
trims mumu sudah menyempatkan waktu untuk merecaps drama ini...ditunggu part 2nya dgn sabar ^o^
ReplyDeletePaulina
beneran deh si Jung Woo itu miripppppppppppp pake banget sama Kim Heechul 'super junior', apalagi gaya rambutnya sama.
ReplyDeleteaku ingin menyebutnya chullie oppa ^^
La kan itu memang HeechuL super junior yng jdi jung woo...
DeleteAHHH..
Deletebenar juga. xixiii
maklum aq ga liat siapa nama pemainny
Ya ampunn... malah sibuk ngebahas jam tangan dr pd menyelidiki kasus pembunuhannya
ReplyDeleteHahaha....lucu...lucu..
unni mu2 d tunggu kelanjutannya ya !!!
Gumawo..
wahh akhirnya blognya bisa dibuka.. tadi siang lagi renovasi ya mbak? buat slide show nya gimana mbak? pengen tau :) btw thanks sinopnya..
ReplyDeleteslideshow udah ada dari templatenya.. tapi di blogger biasa juga ada koq, kalo add widget di layout, ada pilihannya untuk slideshow..
DeleteOh gitu ya mbak.. maaci ^^v
DeleteYeeaayy,,, akhirnya jd jg sinonya. Haha,, gak bisa gak ketawa bacanya apalagi pictnya lumayan buat jd gambaran yg jelas ekspresi pemainnya. Aduuh,,, kocak jg ya. Jd pengen nonton jg nih.
ReplyDeleteMakasih ya, mbak. Aku sllu setia menanti tulisanmu meski banyak kendalanya tetap semangat ya, mbak. The readers pasti jg memakluminya. Kuharap tdk menjadi beban buat mbak mumu dlm menulis sinop drakor.
Luv you, mbak mumu. Titip peluk buat Mika ya,,, *hug*
*irma di Jkt @irmaleoizma
Mbak, gambarnya bs diedit lg ga..?? Yg bagian bwh kosong, ga kelihatan. apa krna bukanya lwt hp kali yaa..
ReplyDeletegomawo sinop nya.. ^^
fighting..!
Telat bru baca skrg :( tpi gpp dikebut thanqyu mba ^^
ReplyDeleteNgakak mulu baca nya XD
ReplyDeleteAiiih... bang Heenim yg bikin saya klepek klepek.
Tim yg Koplak bin Somvlak XD