While You Were Sleeping | Episode 31
Dam Dong meminta Jae Chan untuk mengajukan pencekalan bepergian untuk Yoo Bum. Dam Dong berangkat ke pengadilan dengan mobil Yoo Bum. saat Dam Dong hendak masuk ke dalam mobil, dia melihat sebuah koper di kursi belakang. Jadi Dam Dong menduga setelah persidangan ini Yoo Bum mungkin akan melarikan diri ke luar negri.
Jae Chan bertanya pada Ji Gwang, bukankah perlu beberapa hari untuk mendapat persetujuan pencekalan? Ji Gwang bilang mereka bisa mendapatkan persetujuan hari ini jika itu adalah permohonan penting. Ji Gwang lalu bicara pada Woo Joo yang baru saja datang mengenai hal itu. Yoo Bum memperhatikan mereka dari kejauhan.
***
Woo Tak membaca sumpah sebagai saksi di depan hakim. Hong Joo melihatnya dengan khawatir, karena Woo Tak akan dihukum untuk sumpah palsu jika dia berbohong. Hakim kemudian mempersilahkan jaksa untuk memulai interogasi.
Jae Chan kemudian berdiri di hadapan Woo Tak. Jae Chan memastikan jika Woo Tak berada di atap tempat kejadian perkara pada malam itu. Jae Chan juga meminta Woo Tak untuk mendeskripsikan keadaan di tempat kejadian pada saat Woo Tak baru saja sampai di tempat kejadian.
Woo Tak kemudian menjelaskan, pada saat dia sampai di tempat kejadian dia melihat Yoo Bum sedang menangis sambil membopong Hong Joo. Saat Woo Tak mengambil alih Hong Joo, dia melihat dua buah payung terbuka dari jauh. Jae Chan bertanya, apakah ada orang lain di atap itu? Tidak, tidak ada siapapun disana.
Ji Gwang menyerahkan bukti foto kedua payung yang disebutkan Woo Tak pada hakim. Jae Chan menjelaskan bahwa ada di kedua payung tersebut terdapat sidik jari korban. Hal tersebut menunjukkan bahwa korban membawa dua payung karena dia akan kembali bersama dengan Yoo Bum (masing-masing 1 payung). Ini artinya Yoo Bum membunuh korban, Ha Ju Won yang tidak punya maksud untuk membunuh Yoo Bum. ini juga bertentangan dengan pernyataan Yoo Bum dalam pembelaan diri.
Yoo Bum berbisik pada Pengacara Ko untuk berkeras bahwa payung ditemukan di lantai satu, bukan di atap. Nyatakan bahwa mungkin payung itu bukan payung yang sama dengan yang dilihat saksi.
Jae Chan menjelaskan pada hakim bahwa Woo Tak sebagai saksi adalah polisi yang pertama tiba di tempat kejadian dan melihat keadaan disana. Payung yang dia lihat di atap dan yang ditemukan di lantai pertama bisa diidentifikasi sama oleh saksi. Jae Chan meminta Woo Tak untuk memberitahu seperti apa payung yang dilihatnya.
āYang satu sangat panjang. Yang lainnya pendek dan bisa dilipat.ā
āApa warnanya?ā
Woo Tak tak bisa menjawab pertanyaan Jae Chan itu. Dia mengepalkan tangannya. Hong Joo dan Kyung Han menggelengkan kepala meminta Woo Tak untuk tidak mengatakan kalau dia buta warna. Woo Tak kemudian teringat dengan pertanyaan Hong Joo sebelumnya. Bagaimana Woo Tak akan bersaksi, apakah menyembunyikan tentang buta warnanya? Jika ketahuan Woo Tak akan dihukum untuk sumpah palsu.
Flashback.
āAku tidak akan bersumpah palsu.ā
āApa kamu akan mengaku buta warna? Kalau begitu kamu harus berhenti dari pekerjaanmu sebagai polisi.ā
Woo Tak tersenyum.
Flashback end.
Jae Chan bertanya pada Woo Tak terdiam, kenapa Woo Tak tidak bisa memberitahu mereka warna dari payung itu?
āSaksi. Apa warna dari payung?ā Jae Chan yang tidak tahu tentang keadaan Woo Tak kembali bertanya.
āSayaā¦..tidak bisa membedakan warna dengan baik.ā
Jae Chan terkejut mendengarnya. Begitupun para hadirin, Ji Gwang, hakim, dan bahkan Yoo Bum. Di bangku hadirin Kyung Han menyesalkan pernyataan Woo Tak itu, karena itu akan membuat Woo Tak berada dalam masalah. Seung Won dan temannya juga terkejut. Bagaimana bisa seorang polisi buta warna.
Pengacara Ko tertawa. Menurutnya semua sudah berakhir.
Jae Chan yang masih terkejut dengan terkejut mencoba memastikan. Tapi Woo Tak mengiyakan dengan mantap. Dia adalah seorang polisi, dan menjadi seseorang yang buta warna artinya tidak memenuhi syarat untuk pekerjaannya itu.
āBegitu kesaksian saksi saya sudah selesai, saya akan menyerahkan surat pengunduran diri.ā
Jae Chan menjatuhkan kertas yang dia pegang, semakin terkejut dengan pernyataan Woo Tak. Hadirin pun kembali terkejut. Reporter Bong pun tak percaya mendengar Woo Tak akan mengundurkan diri dari kepolisian untuk bersaksi.
Tangan Jae Chan gemetaran. Woo Tak menatap Jae Chan dengan yakin, āLanjutkan interogasi Anda, Geomsa-nim.ā
Jae Chan berusaha menenangkan diri dengan melonggarkan dasinya. Jae Chan hendak mengambil kertas yang terjatuh dengan tangan kirinya, tapi tangannya masih gemetaran. Jae Chan mengambil kertas itu dengan tangan kanan. Jae Chan kemudian kembali melanjutkan interaksi.
āSaksi, dapatkah anda mendeskripsikan payung yang anda lihat malam itu?ā
Sebelum Woo Tak bisa menjawab, Pengacara Ko mengajukan keberatan. Bahkan orang biasa tidak akan bisa mengingat payung yang dia lihat di malam hari hanya dalam beberapa detik, apalagi saksi yang tidak bisa membedakan warna.
āBukannya saya tidak bisa melihatnya. Saya melihatnya secara berbeda. Dari pada membedakan warna seperti orang biasa, saya bisa mengenali cahaya dan bayangan lebih baik dari orang biasa. Jadi kemampuan saya untuk melihat di malam hari jauh lebih baik dari orang normal.ā Woo Tak memberi penjelasan pada hakim.
Jae Chan juga meminta hakim untuk mendengarkan pernyataan penuh dari saksi. Tidak akan pernah terlalu terlamat untuk menghakimi. Hakim mengijinkan.
Jae Chan pun melanjutkan, āSaksi, payung macam apa yang anda lihat malam itu?ā
āPayung panjang yang saya lihat malam itu memiliki gagang kayu yang bengkok seperti tongkat. Payung lipat punya gagang silinder dan ada dua lingkaran di gagangnya. Payung panjang warnanya sama dengan warna dasi sang terdakwa. Payung lipat warnanya mirip dengan bagian depan jubah Geomsa-nim, tetapi lebih terang.ā
Foto dari payung-payung tersebut kemudian di perlihatkan di layar. Dan apa yang dikatakan Woo Tak dalam pernyataannya tentang payung-payung itu, semuanya benar.
Jae Chan pun bertanya apakah payung-payung yang ada di layar adalah sama dengan yang Woo Tak lihat malam itu? Woo Tak membenarkan. Itu adalah payung yang sama.
Woo Tak menatap Jae Chan yang masih terkejut dan tampak merasa bersalah. Hong Joo pun menangis.
***
Episode 31 ~ Goodbye, My Friend.
***
Hakim mengakhiri sesi interogasi saksi, dan sidang akan dilanjutkan tanggal 25 Juli untuk sidang terakhir.
Tangan Jae Chan masih gemetaran. Ji Gwang mengkhawatirkan Woo Tak. Dia pikir Woo Tak baru saja kehilangan pekerjaan karena kesaksiannya.
Jae Chan kemudian membaca pesan dari Woo Tak. āJangan merasa canggung. Aku baik-baik saja. Jadi kita lanjutkan persahabatan kita.ā
Pengacara Ko bicara pada Yoo Bum. Seperti yang Yoo Bum tahu dengan baik, kana lebih baik jika Yoo Bum mengumpulkan bukti dan alasan untuk menyatakan bahwa Yoo Bum tidak sengaja melakukannya.
āSengaja? Tidakkah anda akan menyatakan saya tidak bersalah?ā Yoo Bum terkejut dengan permintaan Pengacara Ko.
āAku rasa kita tidak perlu melanjutkan pernyataan pembelaan diri. Dan juga, bukankah lebih baik mengurangi dakwaan beberapa tahun? Dalam persidangan berikutnya Pengacara Seo akan datang untuk menggantikanku.ā
Yoo Bum mencoba memanggil kembali Pengacara Ko yang berjalan menjauh, tapi Pengacara Ko tidak peduli.
***
Kyung Han memarahi Woo Tak. Dia sudah bilang agar Woo Tak menutup mulut dan mengatakan bahwa dia tidak melihat apapun malam itu. Kyung Han merasa kesal, karena Woo Tak tidak akan bisa menarik kembali kata-kata yang telah dia lontarkan di pengadilan. Woo Tak tersenyum, dia tahu hal itu. Tak jauh dari mereka, ada Hong Joo yang mendengarkan.
Kyung Han menyayangkan orang tua Woo Tak yang bekerja keras beternak untuk menyekolahkan Woo Tak ke akademi polisi. Kyung Han mengingatkan, Woo Tak adalah putra satu-satunya di generasi ketiga keluarganya.
āAku bukan putra satu-satunya di generasi ketiga.ā
āApa?ā
āOrang tuaku tidak tinggal di pedesaan. Mereka sudah bercerai sejak lama dan menikahi kembali orang yang berbeda. Bahkan jika aku berhenti dari pekerjaanku sekarang, mereka hanya akan berkata, Ah, kamu berhenti? Hanya itu.ā
āWoo Tak-ahā¦ā
Woo Tak berusaha menahan tangisnya sambil memegang lencana kepolisian yang dia kenakan.
āTidak pernah sekalipun dalam hidupkuā¦.lencana iniā¦menjadi milikku. Selalu terasa berat. Sulit. Tapi..aku ingin menahan beban itu. Aku menikmatinya. Bekerja dengan seonbaenim, adalah kenangan menyenangkan bagiku.ā
Woo Tak pun akhirnya menangis. Hong Joo juga menangis.
āAku rasa sudah cukup. Aku pikir aku tidak seharusnya meminta lebih.ā
Woo Tak mengenakan topi seragamnya dan memberi hormat pada Kyung Han. Woo Tak berterima kasih. Kyung Han membelas hormat Woo Tak lalu memeluknya. Kyung Han juga menangis, membayang kesulitan yang selama ini dialami Woo Tak.
***
Yoo Bum mencuci tangan di toilet. Sambil menatap wajahnya sendiri di cermin dia meyakin dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja dan belum berakhir. Saat hendak mengeluarkan sapu tangan, Yoo Bum menjatuhkan passport dan tiket dari dalam jasnya.
Sementara itu Woo Joo dan Hee Min mencoba membuat permohonan pencekalan untuk Yoo Bum. Woo Joo menjelaskan di telepon bahwa ada laporan kemungkinan Yoo Bum akan melarikan diri hari ini. Jadi Woo Joo meminta pihak terkait untuk mengeluarkan pencekalan secepatnya.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Ji Gwang menerima pesan dari kekasihnya bahwa permintaan pencekalan Yoo Bum sudah dikabulkan. Ji Gwang berteriak memuji kekasihnya itu dan bahkan mencium ponselnya. Dam Dong kemudian datang meledek Ji Gwang. Ji Gwang pun memberitahu Dam Dong dan Jae Chan bahwa pencekalan terhadap Yoo Bum sudah dikabulkan.
Jae Chan mengucapkan terima kasih pada Dam Dong untuk hari ini. Dam Dong akan ada disini untuk persidangan selanjutnya, kan? Dam Dong balik bertanya, apakah persidangan selanjutnya adalah sidang terakhir? Siapa yang akan mengajukan tuntutannya?
āKenapa? Anda tidak akan datang jika aku yang melakukannya dan akan datang jika Jaksa Jung yang melakukannya? Seperti itu?ā protes Ji Gwang.
āYa, seperti itu.ā Ujar Dam Dong.
āYa, tolong datang. Anda harus datang. Jaksa Jung yang akan melakukannya.ā Balas Ji Gwang dengan kesal.
Dam Dong menyalami Ji Gwang sambil berkata kalau dia tidak akan melewatkannya. Ji Gwang semakin kesal, Dam Dong telah mengecewakannya. Heheā¦
Dam Dong kemudian memuji penampilan Jae Chan hari ini. Dam Dong menyalami Jae Chan, lalu berjalan pergi. Jae Chan menatap Dam Dong dengan berat hati.
***
Di depan gedung, Yoo Bum mendekati Dam Dong dengan emosi. Dengan nada sarkatis dan sindiran, Yoo Bum memuji perkataan Dam Dong di pengadilan yang mengesankan bahwa tanggung jawab dan hubungan dalam penyelidikan adalah kewenangan jaksa. Yoo Bum bilang bahwa saat dia menyelidiki kasus pembunuhan infus, dia tidak pernah menginginkan penghargaan, dan Dam Dong juga tahu hal itu dengan baik. Yoo Bum juga bilang kalau dia yakin pembunuhnya adalah Myung Yi Suk, dan dia ingin menangkapnya bagaimanapun juga. Hanya itu.
āYa, aku tahu.ā Ujar Dam Dong.
āLalu mengapa anda melakukan ini padaku? Mengapa? Mengapa anda melakukan ini padaku? Mengapa semua orang begitu kejam..ā
ā20 November 1983, itu hari ulang tahunmu kan, Pengacara Lee?ā
āBenar. Itu hari dimana orang tuaku sendiri bahkan tidak mengingatnya tapi anda merayakannya denganku setiap tahun. Tapi apakah anda merayakannya denganku hanya untuk menikamku dari belakang seperti ini?ā
āItu hari yang sama dengan ulang tahun adikku. Usia dan hari ulang tahunmu. Jadi kamu spesial bagiku. Itulah mengapa aku melakukan ini.ā Dam Dong tampak dengan tulus mengatakannya pada Yoo Bum.
Dam Dong mendekati Yoo Bum dan memegang pundaknya. Dam Dong memberitahu bahwa telah ada pencekalan untuk Yoo Bum, jadi Yoo Bum tidak perlu pergi ke bandara. Yoo Bum semakin emosi dan menduga Dam Dong yang melakukannya.
āJadi, berhenti melarikan diri. Jangan lagi.ā
Yoo Bum melepaskan tangan Dam Dong dengan kasar, lalu memandangnya dengan penuh amarah. Sebaliknya Dam Dong menatap Yoo Bum dengan tatapan lembut.
Rupanya yang Dam Dong lihat di diri Yoo Bum memanglah adiknya yang tentara itu. Dam Dong kembali meraih pundaknya.
āKamu hanya akan terluka dan menderita. Jadi.. Berhentilah bersikap keras kepala. Berhenti menyakiti orang lain. Ikutlah denganku, Guk Hyun-ahā¦ā
Sementara itu Jae Chan yang merasa tak nyaman memutuskan untuk menyusul Dam Dong dan menitipkan berkas serta jubah dan dasinya pada Ji Gwang. Jae Chan berjanji akan segera kembali. Jae Chan berjalan ke depan gedung dan melihat Dam Dong yang sedang berusaha menenangkan Yoo Bum, hingga akhirnya Yoo Bum berjalan pergi. Dam Dong pun berbalik, berjalan ke arah yang berlawanan dengan Yoo Bum.
Dam Dong kemudian melihat sebuah daun merah berputar-putar di udara. Dam Dong bergumam bahwa terlalu dini untuk daun berubah menjadi merah. Dam Dong pikir pernah melihat daun itu sebelumnya.
Flashback, diperlihatkan saat Dam Dong muda terbaring di rumah sakit.
Dam Dong mengambil daun itu yang kini telah jatuh di jalan. Dam Dong bergumam, āTernyata sekarang waktunya..ā
Dam Dong kemudian berkata dalam hati, āAku tahu musim gugur datang karenamu.
Dam Dong melihat Jae Chan berjalan ke arahnya dan masih berkata dalam hati, āAku pikir aku punya lebih banyak waktu.ā
Jae Chan yang sedang berjalan menuju Dam Dong tiba-tiba berhenti karena melihat sesuatu. Sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah Dam Dong. Jae Chan menyadari sesuatu dan berteriak memanggil Dam Dong. Tapi terlambat, mobil itu menabrak Dam Dong. Dam Dong terpental dan kemudian tergeletak di jalan dengan darah mengucur dari kepalanya. Dalam hati Dam Dong memanggil Jae Chan.
Jae Chan berlari ke arah Dam Dong dan mendekapnya. Jae Chan dengan panik meminta seseorang menghubungi ambulance. Sementara itu, Yoo Bum di pengendara mobil tadi diamankan. Yoo Bum masih sempat menengok ke arah Dam Dong dan Jae Chan. Rupanya Yoo Bum yang marah pada Dam Dong memutuskan untuk melampiaskan amarahnya dengan menabrak Dam Dong. (Jahat bangetā¦.gak punya hati, gak punya perasaan. Niat tulus Dam Dong gak diterima sama diaā¦)
āGeomsanim..aku ingin mengatakan sesuatu.ā Ujar Dam Dong dengan lemah.
āJangan bicara! Ambulance akan datang sebentar lagi. Tidak apa-apa.ā Jae Chan yang menangis membelali Dam Dong.
Tapi Dam Dong tetap saja bicara, āSudah lama sekaliā¦ 13 tahun yang laluā¦ aku melihat saat ini dalam mimpiku. Dalam mimpiku, kamu berkata sesuatu padaku.ā
Jae Chan memikirkan sesuatu sebelum akhirnya bicara, āPak Choi. Pak Choi. Jika anda memimpikan saat ini, jangan datang dan menemui aku. Jika anda tidak menemui aku, anda tidak akan meninggal. Jadiā¦ tolong jangan mencari aku.ā Jae Chan menangis.
āKamu tidak mengatakan itu. Lagi. Katakan lagi.ā Dam Dong semakin lemah, dan Jae Chan yang tak sanggup mengelengkan kepala. āCepat. Aku tidak punya banyak waktu.ā
Sambil menangis Jae Cha berusaha mengatakan sesuatu.
āPak Choi, jika aku bertemu dengan anda lagi.. Aku tidak akan mengenali anda seperti orang bodoh. Bagi andaā¦aku menjengkelkan dan lamban. Anda akan berakhir bekerja lembur karena kasus yang belum terpecahkan menumpuk. Mengapa andaā¦mengapa andaā¦ā Jae Chan semakin terisak. ā..menjadi satu-satunya yang terluka? Anda merusak sepatu baru anda karena aku.. Anda menderita mental dan fisik karena aku. Tapiā¦meski begitu.. jika anda masih bisa bertahan dengan seseorang sepertiku, datanglah padaku. Aku akan banyak bertanya dan banyak belajar dari anda. Akuā¦akuā¦ akan sangat menghormatimu.ā
Dam Dong tersenyum, āInilah. Kamu mengatakannya seperti ini. Dan itulah mengapa polisi datang mencarimu dengan sangat mendesak. Aku datang kesini dengan mengetahui apa yang akan terjadi.ā Dam Dong memegang wajah Jae Chan. āIni adalah pilihanku. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.ā
āAhjussiā¦ā
āSalahkan dirimu sebentar saja. Dan ingatlah untuk waktu yang lama. Kamu ingat itu, kan?ā
Jae Chan mengangguk.
āBenar. Itu adalah putra dari atasanku.ā
Setelah mengatakan itu, Dam Dong perlahan menutup matanya dan tangannya pun terhempas. Jae Chan terus menangis sambil meminta Dam Dong untuk tidak pergi.
***
Flashback.
āBahkan jika hidup memberimu cobaan, jangan sedih atau marah. Hatimu hidup di masa depan. Masa kinimu menyedihkan. Semuanya adalah momen yang singkat. Apa yang berlalu, dan apa yang lewat sekarang... akan dikenang di masa depan.ā
Dam Dong muda sadarkan diri dan mendengar seonbae-nya membaca buku. Seonbae terkejut melihat Dam Dong sudah sadar. Dam Dong berkata kalau dia lapar dan ingin makan.
Sebelum pergi mengambil makanan, seonbae memasrikan Dam Dong tidak akan melakukan hal bodoh lagi (bunuh diri).
āAku tidak akan pergi kemana-mana. Aku tidak akan melakukan hal bodoh. Akhirku..bukan sekarang. Ada seseorang yang harus aku temui di masa depan.ā
Flashback end. (jadi sepertinya itulah saat Dam Dong memimpikan hari kematiannya.)
***
Di pemakaman, para pelayat tidak dimintai uang berkabung sesuai dengan kehendak Dam Dong. Di samping meja, ada sebuah tas berisi banyak amplop surat yang ditujukan untuk Jae Chan.
Jae Chan berdiri di depan pintu. Dia tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Jae Chan berbalik dan berjalan pergi. Hong Joo yang sedang membantu menyajikan makanan melihatnya. Hong Joo menyusul Jae Chan. Sama seperti 13 tahun lalu Jae Chan menyusulnya.
Dan seperti Jae Chan yang waktu itu menemukannya, Hong Joo pun menemukan Jae Chan sedang duduk sendirian. Bersedih dan menangis sendirian.
Jae Chan menyadari kehadiran Hong Joo. Jae Chan menundukkan kepalanya. Dan sama seperti waktu itu, Hong Joo duduk di samping Jae Chan, tanpa mengatakan apapun Hong Joo meraih pundak Jae Chan dan memeluknya. Sama seperti Jae Chan saat itu. Mereka pun menangis bersama.
***
Bersambung ke episode 32 (End) ~
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas komentarnya. Tapi mohon maaf komentar akan dimoderasi ya.. jadi gak akan langsung muncul di halaman post.. Dan pasti akan saya baca semua, walau tidak saya balas. XD